Askep DBD
PENDAHULUAN
Demam
dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF)
adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan
manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai
lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan diatesis,
hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh
hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di
rongga tubuh. Sindrom renjana dengue (dengue shock syndrome) adalah
demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok.
ETIOLOGI
Demam
dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang
termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus
merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat
rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 106.
Terdapat
4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Terdapat reaksi
silang antara serotype dengue dengan Flavivirus lain seperti Yellow
fever, Japanese encehplalitis dan West Nile virus.
EPIDEMIOLOGI
Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vector nyamuk genus Aedes (terutama A. aegepty dan A. albopictus).
Bebrapa
faktor diketahui berkatian dengan peningkatan transmis virus dengue
yaitu : 1). Vektor : perkembang biakan vector, kebiasaan menggigit,
kepadatan vector di lingkungan, transportasi vector dari satu tempat ke
tempat lain; 2). Pejamu : terdapatnya penderita di lingkungan/keluarga,
mobilasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin; 3).
Lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.
PATOGENESIS
Patogenesis terjadinya demam berdarah dengue hingga saat ini masih diperdebatkan.
Terdapat
bukti yang kuat bahwa mekanisme imunopatologis berperan dalam
terjadinya demam berdarah dengue dan sindrom senjatan dengue.
Respon imun yang diketahui berperan dalam patogenesis DBD adalah :
a) Respon
humoral berupa pembentukan antibody yang berperan dalam proses
netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen dan sitotoksitas
yang dimediasi antibody. Antibody terhadap virus dengue berperan dalam
mempercepat replikasi virus pada monosit atau makrofag hipotesis ini
disebut antibody dependent enhancement (ADE);
b) Limfosit
T baik T-helper (CD4) dan T sitotoksik (CD8) berperan dalam respon imon
seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T-helper yaitu TH1 akan
memproduksi interferon gamma, IL-2 dan limfokin, TH2 memproduksi IL-4,
IL-5, IL-6, dan IL-10;
c) Monosit
dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan opsosinasi anti
bodi. Dalam proses fagositosis ini menyebabkan peningkatan replikasi
virus dan sekresi sitokin oleh makrofag;
d) Selain itu aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan terbentuknya C3a dan C5a.
Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme:
1) Supresi sumsum tulang, dan
2) Destruksi dan pemandekan masa hidup trombosit.
Gambaran sumsum tulang pada faseawal infeksi (<5 hari) menunjukkan keadaan hiposeluler dan supresi megakariosit.
Koagulopati
terjadi sebagai interaksi virus dengan endotel yang menyebabkan
disfungsi endotel. Terjadinya koagulopati konsumtif pada demam berdarah
dengue stadium III dan IV.
GAMBARAN KLINIS
Manifestasi
klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimtomatik, atau dapat
berupa demam yang tidak khas, demam dengue, demam berdarah dengue atau
sindrom syok dengue (SSD).
Pada
umumnya pasien mengalami fase demam selama 2 – 7 hari, yang diikuti
oleh fase kritis selama 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien sudah tidak
demam, akan tetapi mempunyai risiko untuk terjadi renjatan jika tidak
mendapat pengobatan tidak adekuat.
GAMBARAN LABORATORIUM
Pemeriksaan
darah yang rutin adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin,
hematokrit, jumlah trombosit dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya
limfositosis relative disertai gambaran limfosit plasma biru.
Diagnosis
pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture) atau
tes serologis yang mendeteksi adanya antibody spesifik terhadap dengue
berupa antibody total, IgM maupun IgG.
Parameter Laboratorium yang dapat diperiksa antara lain :
· Leukosit : dapat normal atau menurun. Mulai hari ke 3 dapat ditemui limfositosis relatif (>45% dari totalleykosit)
· Trombosit: terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8
· Hematokrit : peningkatan hematokrit ≥ 20% dari hematokrit awal, dimulai pada hari ke-3 demam
· Hemostasis
: dilakukan pemeriksaan PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP pada
keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah.
· Protein / albumin : dapat terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran plasma
· SGOT/SGPT (serum alanin aminotransferase): dapat meningkat.
· Ureum, Kreatinin : bila didapatkan gangguan fungsi ginjal.
· Elektrolit
· Golongan Darah dan cross match
· Imunoserologi dilakukan pemeriksaan IgM dan IgG terhadap dengue.
IgM : terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningakt sampai minggu ke-3, menghilang setelah 60-90 hari.
IgG : pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke-14, pada infeksi sekunder IgG mulai terdeteksi pada hari ke-2.
DIAGNOSIS
Masa
inkubasi dalam tubuh manusia sekitar 4-6 hari (rentang 3-14 hari),
timbul gejala prodormal yang tidak khas seperti : nyeri kepala, nyeri
tulang belakang dan perasaan lelah.
Demam Dengue (DD). Merupakan penyaki demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut:
· Nyeri kepala.
· Nyeri retro-orbital.
· Mialgia / artralgia.
· Ruam kulit.
· Manifestasi perdarahan (petekie atau uji bendung positif)
· Leukopenia. Dan pemeriksaan serologi dengue positif.
Demam Berdarah Dengue (DBD). Berdasarkan criteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal dibawah ini dipenuhi :
· Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari, biasanya bifasik.
· Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut :
- Uji bendung positif
- Petekie, ekimosis, atau purpura
- Perdarahan mukosa (tersering epistaksis atau perdrahan gusi), atau perdarahan dari tempat lain.
- Hematemesis atau melana.
· Trombositopenia (jumlah trombosit < 100.000 ul)
· Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage (kebocoran plasma) sebagai berikut :
- Peningkatan hematokrit > 20%
- Penurunan hematokrit > 20%
- Tanda kebocoran plasma seperti : efusi pleura, asites atau hipoproteinemia.
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis
banding perlu dipertimbangkan bilaman terdapat kesesuaian klinis dengan
demam tifoid, campak, influenza, chikungunya, dan leptospirosis
Sindroma
Syok Dengue (SSD). Seluruh criteria diatas untuk DBD disertai kegagalan
sirkulasi dengan manifestasi nadi yang cepat dan lemah, tekanan darah
turun (≤20 mmHg), hipotensi kulit dingin dan lembab serta gelisah.
PENATALAKSANAAN
Tidak ada spesifikasi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah terapi suportif.
Pemeliharaan
volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling penting dalam
penangannan kasus DBD. Asupan cairan pasien harus tetap dijaga terutama
cairan oral. Jika asupan cairan oral pasien tidak mampu dipertahankan,
maka dibutuhkan suplemen cairan melalui intravena untuk mencegah
dehidrasi dan hemokonsentrasi secara bermakna.
Protokol 1. Penanganan Tersangka (Probable) DBD Dewasa tanpa Syok.
Seseorang
yang tersangka menderita DBD diruang Gawat Darurat dilakukan
pemeriksaan hemoglobin (Hb), Hematokrit (Ht), dan trombosit bila :
· Hb, Ht dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-150.000, pasien dapat diipulangkan dengan anjuran control.
· Hb, Ht normal tetapi trombosit < 100.000 dianjurkan untuk dirawat.
· Hb, Ht meningkat dan trombosit normal atau turun juga dianjurkan untuk dirawat.
Protokol 2. Pemberian Cairan pada Tersangka DBD Dewasa di Ruang Rawat
Pasien
yang tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan massif dan tanpa syok
maka diruang rawat diberikan cairan infuse kristaloid dengan jumlah
seperti rumus berikut ini :
1500 + {20 x (BB dalam kg – 20)}
· Bila Hb, Ht meningka 10-20% dan trombosit < 100.000 jumlah pemberian cairan tetap.
· Bila
Hb, Ht meningkat > 20% dan trombosit < 100.000 maka pemberian
cairan sesuai sesuai dengan protocol penatalaksanaan DBD dengan
peningkatan Ht > 20%
Protokol Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan Ht > 20%
Meningkatnya
Ht > 20% menunjukkan bahwa tubuh mengalami defisit cairan sebanyak
5%. Terapi awal pemberian cairan adalah dengan memberikan infuse cairan
kristaloid sebanyak 6-7 ml/kg/jam. Kemudian dipantau setelah 3-4 jam
pemberian cairan. Bila terjadi perbaikan yang ditandai dengan
tanda-tanda hemaokrit turun, frekuensi nadi turun, tekanan darah stabil,
produksi urin meningkat maka jumlah cairan infuse dikurangi menjadi 5
ml/kgBB/jam.
Apabila setelah pemberian terapi cairan awal 6-7 ml/kgBB/jam tadi tetap tidak membaik, yang ditandai dengan ematokrit dan nadi meningkat, tekanan nadi menurun < 20 mmHg, produksi urin mneurun, maka kita harus menaikkan jumlah cairan infuse menjadi 10 ml/kgBB/jam.
Protokol 4. Penatalaksanaan Perdarahan Spontan pada DBD Dewasa.
Perdrahan
spontan dan massif pada penserita DBD dewasa adalah: perdarahan
hidung/epistaksis yang tidak terkendali walaupun telah diberikan tampon
hidung, perdarahan saluran cerna (hematemesis dan melena atau
hematoskesia), perdarahan saluran kencing (hematuria), perdarahan otak
atau perdarahan tersembunyi dengan jumlah pendarahan sebanyak 4-5
ml/kgBB/jam. Pada keadaan seperti ini jumlah dan kecepatan pemberian
pemberian cairan tetap seperti keadaan DBD tanpa syok lainnya.
Pemberian heparin diberikan apabila secara klinis dan laboraoris didapatkan tanda-tanda koaglasi intravascular diseminata (KID). Tranfusi komponen darah diberikan sesuai indikasi. FPP diberikan bila didapatkan defisiensi factor-faktor pembekuan. PRC diberikan bila nilai Hb kurang dari 10 g/dl. Tranfusi trombosit hanya diberikan pada pasien DBD dengan perdarahan spontandan massif dengan jumlah trombosit < 100.000/ mm3 disertai atau tanpa KID.
Protokol 5. tatalaksana Sindroma Syok Dengue pada Dewasa
Bila
kita berhadapan dengan sindroma Syok Dengue (SSD) maka hal pertama yang
harus diingat adalah bahwa renjatan harus segera diatasi dan oleh
karena itu penggantian cairan intravascular yang hilang harus segera
dilakukan.
Selain resusitasi cairan, penderita juga diberikan oksigen 2-4 liter/menit. Pemeriksaan-pemeriksaan yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL), hemostasis, analisis gas darah, kadar natrium, kalium dan klorida, serta ureum dan kreatinin.
Pada fase awal, cairan kristaloid diguyur sebanyak 10-20 ml/kgBB dan dievaluasi setelah 15-30 menit. Bila renjatan telah teratasi jumlah cairan dikurangi menjadi 7 ml/kgBB/jam.
PROGNOSIS
Kematian
oleh Demam dengue (DD) hamper tidak ada. Sebaliknya pada DHF/DSS
mortaliasnya cukup tinggi. Menurut penelitian prognosis dan perjalanan
penyakit orang dewasa umumnya lebih ringan daripada anak-anak
PENCEGAHAN
Untuk memutuskan rantai penularan pemberantasan vector dianggap cara paling memadai. Ada 2 cara pemberantasan vektor :
1. Menggunakan Insektisida
Biasanya
digunakan malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan abate untuk
membunuh jentik. Dosis yang digunakan ialah 1 ppm atau 1 gr Abate 56 1%
per 10 ltr air.
2. Tanpa Insektisida
Minimal 1 x minggu
- Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.
- Membersihkan halaman rumah dari kaleng-kaleng bekas, bool-botol pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang.
REFERENSI
- Abdurachman S.A., 1999. Dengue. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit FKUI hal 417-426
- Suhendro,
Leonard Nainggolan, khie chen, Herdiman T. Pohan, 2006. Demam Berdarah
Dengue. Ilmu Penyakit Dalam, ECG. Hal 1731-1735.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar